Tampilkan postingan dengan label Apple. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apple. Tampilkan semua postingan
1 Okt 2018

Pengalaman Mencoba macOS Mojave

1 Okt 2018  Iskandar Dzulkarnain  6 komentar
Sabtu kemarin, saya cukup dikagetkan dengan adanya update OS terbaru untuk macOS, yaitu macOS Mojave. Maklum, sudah lama tidak cek berita tentang Apple karena banyak kesibukan yang harus segera diselesaikan. Di sela kesibukan saya di Sabtu malam, saya iseng buka App Store ternyata ada yang baru.


Cukup lama juga menunggu untuk download macOS Mojave ini, sekitar 5.7 GB. Untuk kecepatan internet yang saya pakai di rumah saya, sekitar 2 jam untuk menyelesaikan download-an OS ini.

Awalnya saya tidak berharap lebih dari versi OS yang satu ini. Ya tahu lah, yang paling ditonjolkan adalah dark mode. Ya itu bagi saya bukan sesuatu yang wah. Tapi, ternyata saya salah. Ada beberapa fitur baru yang bikin saya geleng-geleng kagum.

Fitur Stacks di Desktop

Fitur ini cukup membuat rapi file-file di Desktop yang berantakan. Untuk jumlah file di Desktop yang tidak terlalu banyak sih tidak seberapa terlihat bedanya.

Di Desktop, klik kanan, lalu pilih Use Stacks

Fitur Stacks ini cukup membuat rapi Desktop

Fitur Night Shift

Selain itu, ada fitur lagi yang tak cukup kalah kerennya adalah kamu bisa membuat tampilan layarmu agak menguning. Maksudnya? Itu loh fitur yang banyak ada di smartphone saat ini, yaitu mengurangi cahaya biru. Sehingga mata tidak begitu capek ketika melihat layar terlalu lama.

Night Shift

Apalagi seperti saya yang kadang begadang mengerjakan kerjaan di malam hari. Tentu saja dengan adanya fitur Night Shift ini lebih mudah membuat saya tidur setelah begadang.

Fitur Dark Mode dan Accent Color

Fitur ini adalah fitur yang paling diunggulkan di macOS Mojave kali ini, Dark Mode. Dark Mode ini sebenarnya sudah diinginkan oleh  banyak pengguna Mac yang notabene adalah programmer dan desainer. Mulai dari Unity 3D, keluarga Adobe, browser Firefox, text editor untuk programming (VS Code, Atom, Sublime Text) sudah punya dark mode. Jadi sangat aneh jika macOS tidak ikutan dark mode.


Selain Dark Mode, macOS juga menambahkan fitur Accent Color. Di versi macOS sebelumnya ini belum ada (saya cek di macOS El Capitan tidak ada fitur ini). Saya sendiri lebih senang menggunakan Accent Color oranye untuk tampilan di MacBook Air saya.

Fitur Recent App di Dock

Kebiasaan saya adalah menaruh aplikasi yang sering saya pakai di Dock. Nah, ternyata di macOS Mojave ini ada fitur baru yang cukup membantu. Fitur itu adalah recent app di Dock. Biasanya di macOS sebelumnya, cuma ada 1 sekat yang membatasi dua bagian. Sekarang ada sekat lagi di tengah-tengah antara folder dan icon app.

Recent App di Dock

Recent App ini ternyata cuma memunculkan 3 aplikasi terakhir yang dibuka (dan tidak termasuk aplikasi yang sudah diletakkan di Dock sebelumnya). Jika lebih dari itu akan digantikan dengan yang baru.

Fitur Dynamic Background

Fitur ini bisa membuat background berubah sesuai dengan lokasi dan waktunya. Jika malam, maka akan berganti dengan background yang gelap. Hanya saja masih ada 2 pilihan saja. Atau mungkin ada cara lain untuk menambah pilihan Dynamic Background ini.


Biasanya sih bakal ada yang membahas cara menambah gambar ke Dynamic Background ini. Semoga saja ada.

Fitur Tambahan di Tampilan Gallery

Fitur ini menurut saya sangat memudahkan buat kamu yang suka edit-edit gambar ringan seperti merotasi, crop, dan hal-hal ringan lainnya.


Cek bagian kanan bawah di Finder, ada pilihan Rotate Left, Markup dan More. Markup ini bisa langsung edit tanpa harus butuh buka aplikasi seperti Photoshop. Sudah ada bawaannya.

Tak hanya itu sih, jika kamu memilih lebih dari 1 gambar, maka akan ada pilihan "Create PDF". Memudahkan sekali. Kamu bisa menggabungkan gambar dan diubah ke PDF tanpa harus buka Adobe Acrobat.

Fitur Create PDF

Masih ada satu lagi sih fitur yang saya sukai dari macOS Mojave ini. Apa itu?

Fitur Tambahan Saat Melakukan Screenshot

Ketika kamu melakukan screenshot, maka akan muncul hasil screenshot tersebut di pojok kanan bawah. Ini sangat memudahkan sekali dibanding harus buka folder screenshot (default-nya ada di Desktop).


Tak berhenti di sana saja sih. Kamu bisa mengeklik kotak kecil itu lalu akan muncul hasil screenshot-nya dan bisa langsung kamu edit di tempat.

Bisa langsung edit. Lihat bagian atas ada icon Tools.

Kamu bisa langsung menambahi tulisan, panah, tanda tangan, crop, dan sebagainya. Jika kamu sudah selesai mengedit, klik tombol "Done". Kamu bisa langsung menghapus dengan mengeklik tombol tong sampah di sebelah tombol Share.

Masih terkait dengan fitur screenshot. Dulu macOS ini hanya ada pilihan screenshot gambar saja. Sekarang bisa melakukan screencast (merekam tampilan Desktop). Shortcut-nya adalah Command Shift 5. Nanti akan muncul pilihan seperti gambar di bawah ini.

Screencast tanpa buka QuickTime

Dengan adanya fitur ini, malah makin mempermudah pengguna seperti saya. Biasanya saya harus ribet buka QuickTime dulu untuk melakukan screencast. Sekarang dengan mudah tinggal tekan tombol Command Shift 5 saja.

Kapan Kamu Upgrade ke macOS Mojave?

Bagaimana? Keren bukan fitur-fitur barunya. Sebenarnya masih ada beberapa fitur baru lagi. Tapi biarlah kamu semakin penasaran dan mencobanya sendiri. Hehe.

Kapan kamu upgrade ke macOS Mojave? Ga bakal menyesal deh upgrade ke macOS Mojave ini, karena banyak sekali fitur yang semakin memudahkan hidupmu. Apalagi seperti saya, blogger yang sering menulis dan ambil screenshot. Pasti dengan adanya fitur-fitur ini semakin memudahkan pekerjaan saya. Akhir kata, sampai jumpa di tulisan saya berikutnya.
Selengkapnya
3 Jul 2018

Cara Mudah Membuka File EPS di macOS

3 Jul 2018  Iskandar Dzulkarnain  Beri komentar
Pernah tahu format file .EPS? Bagi kamu yang bekerja di bidang desain, pasti tidak asing dengan format .EPS ini. Format EPS ini banyak sekali diminta oleh pihak perusahaan, karena memang ini adalah sebuat standar.


Jika kamu pernah ikut kompetisi dan mencari nafkah di 99designs, Graphicriver, atau Creative Market; pasti kamu akan sangat lazim dengan file EPS ini. Biasanya akan diminta jika kamu mendesain logo atau desain vektor.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga sudah pernah membuat tutorial bagaimana cara membuka file EPS di Windows menggunakan Inkscape. Nah, kali ini saya akan membuat tutorial bagaimana cara membuka file EPS di macOS; tentunya tanpa aplikasi berbayar seperti Adobe Illustrator yah.

Di macOS, kerennya sudah ada aplikasi bawaan yang sudah mampu membuka file EPS ini. Nama aplikasi itu adalah Preview. Preview ini adalah aplikasi yang sangat powerful menurut saya. Karena kamu bisa melakukan editing ringan hingga editing yang cukup medium di aplikasi Preview ini.


Baiklah, langsung saja ke topiknya. Berikut ini adalah cara mudah membuka file EPS di macOS.

Cara Membuka File EPS di macOS

Yang pertama dilakukan tentu saja adalah menyiapkan file EPS-nya. Jika kamu belum punya file EPS untuk testing, kamu bisa men-download-nya di situs yang menyediakan file desain vektor gratis seperti di Pixabay atau Freepik. Tapi seharusnya sih orang yang membaca tulisan ini biasanya orang yang sudah punya file EPS tapi tidak bisa membukanya.



Di kasus kali ini saya akan membuka file EPS yang saya dapatkan dari Shutterstock. File ini saya dapatkan dengan menggunakan jasa download vektor Shutterstock di Jasa Shutterstock IDCopy.

Langkah selanjutnya adalah klik kanan, lalu pilih buka dengan "Preview".


Setelah dibuka dengan Preview, maka secara otomatis bisa kamu lihat di bagian title-nya, file EPS ini autokonversi ke .PDF.


Nah, mudah bukan cara buka file EPS di macOS? Tentu saja sangat mudah menurut saya. Selanjutnya adalah cara melakukan konversi dari EPS ke format lainnya, misal JPEG atau PNG.

Export dari EPS ke JPEG atau PNG

Pada kasus ini saya contohkan bagaimana cara Export file EPS ke format JPEG. Klik pada menu File > Export...


Lalu akan keluar popup seperti di bawah ini. Pada tutorial ini saya pilih JPEG.


Setelah itu akan keluar pilihan kualitas dan resolusi gambar yang akan dihasilkan dari proses Export ini.


Setelah itu klik "Save". Jika kamu menyimpannya di Desktop, maka sekarang coba kamu cek di folder Desktop.

Bagaimana? Mudah 'kan?

Semoga tutorial ini bermanfaat buat kamu yang kebingungan membuka file EPS di macOS. Selamat mencoba!
Selengkapnya
14 Mar 2018

Pengalaman Mencoba MacBook Pro 13 Inci 2017

14 Mar 2018  Iskandar Dzulkarnain  12 komentar
Halo sobat Iskael. Lama saya tidak menulis tulisan yang benar-benar dari hati. Kebanyakan tulisan sebelumnya di blog ini isinya Sponsored Post. Namun, kali ini di postingan ini saya akan menulis sedikit pengalaman saya mencoba MacBook Pro versi terbaru yang logo Apple-nya tidak menyala.


Sebenarnya saya mencoba MacBook Pro 13 inci ini sudah lama. Tertanggal di akun Instagram saya 8 Februari 2018. Baru sempat saya tulis sekarang. Di bawah ini adalah sekilas tampilan MacBook Pro 13 inci keluaran tahun 2017.


MacBook Pro ini jelas bukan punya saya. Saya tegaskan lagi, bukan punya saya. Saya hanya pinjam beberapa hari saya bawa ke rumah untuk diotak-atik. Lumayan lah boleh otak-atik barang mahal. Hehe.

Harga MacBook Pro 13 inci non-touch bar ini lumayan bikin dompet bolong. Harganya di pasaran sekitar 20 jutaan. Kemarin temanku membeli MacBook Pro 13 inci ini dengan harga 22 juta. Pasti kamu penasaran spec-nya apa saja sih kok bisa semahal itu. Berikut ini adalah beberapa spesifikasi MacBook Pro 13 inci non-touchbar 2017.

Spesifikasi MacBook Pro 13 inci 2017 non-touchbar

Seperti halnya laptop lainnya, MacBook Pro ini sudah dilengkapi dengan RAM 8 GB. Ya iya lah. Zaman sekarang minimal RAM laptop adalah 8 GB. Apalagi jika kamu yang suka mencoba hal baru seperti mengembangkan aplikasi Android dengan Android Studio. Pasti butuh RAM yang besar.

Overview

Untuk Prosesornya sudah 2.3 Ghz Intel Core i5. Grafiknya menggunakan Intel Iris Plus Graphics 640 1536 MB. Bagi kamu yang tidak biasa dengan produk Apple, kamu akan diribetkan lagi dengan cuma adanya 2 port USB-C saja dan 1 port untuk jack headset. Konverter USB-C to USB biasa dan sebagainya cukup mahal. Beberapa waktu yang lalu teman saya beli konverter USB-C ke VGA, USB, dan USB-C dengan harga 1,6 juta rupiah. Demi apa coba?!

Display

Di MacBook Pro ini mata kamu akan dimanjakan. Pasalnya MacBook Pro ini sudah retina display. Jadi jika kamu lihat tulisan/font-nya, maka seakan tulisan di kertas, halus dan tidak kelihatan pikselnya.

Storage

Dari segi storage-nya lumayan lah sudah 256 GB. Untuk penyimpanan SSD, ukuran 256 GB ini cukup mewah. Jika kamu beli SSD 256 GB di pasaran, harganya sudah 1 jutaan sendiri.

Cycle Count: 3

Karena ini masih gres kinyis-kinyis, kamu bisa melihat sendiri Cycle Count-nya masih 3 loh. Hehe.

Oh ya, ada yang paling asik lagi dari MacBook Pro ini. Ukuran trackpad-nya lebih luas dari trackpad jenis MacBook sebelumnya. Jadi benar-benar menyenangkan memakai MacBook Pro ini. Apalagi desain keyboard-nya yang lebih solid dan rata. Saat saya mengetik menggunakan keyboard MacBook Pro 13 inci ini kemungkinan saya melakukan typo sangat kecil. Mengapa begitu? Karena ukuran key-nya lebih besar dari sebelumnya, jarak antar-key-nya sangat dekat. Ini memberikan pengalaman pengguna yang menyenangkan.

Bikin Mupeng Ga Sih?

Setelah mencoba MacBook Pro ini, seperti halnya manusia penyuka gadget lainnya, saya mupeng. Haha. Istri saya juga bilang untuk nabung buat beli MacBook semacam ini. Jadi, buat kamu yang punya duit lebih dan bingung memilih laptop yang bagus, saya sarankan beli MacBook Pro! Tenang saja, saya bukan sales Apple product yah! Saya hanya berbagi kemupengan saya ke kalian semua :D

Baiklah, segitu dulu review saya dalam mencoba MacBook Pro 13 inci 2017 non-touchbar. Kapan-kapan ketemu lagi di review gadget pinjaman lainnya.
Selengkapnya
8 Okt 2017

Cara Mematikan Fitur Auto Adjust Brightness Screen di MacBook

8 Okt 2017  Iskandar Dzulkarnain  Beri komentar
Salah satu kelebihan MacBook dibandingkan laptop lainnya adalah peduli terhadap mata penggunanya. Fitur yang satu ini belum ada di MacBook yang diproduksi di tahun 2010 ke bawah. MacBook putih saya juga tidak memiliki fitur ini. Fitur tersebut adalah Auto Adjust Brightness Screen. Entah mulai kapan Apple memberikan fitur ini pada MacBook, yang jelas MacBook Air tahun 2015 sudah punya fitur ini.


Fitur ini membuat pencahayaan layar MacBook otomatis mengikuti intensitas cahaya di sekitar. Ini sangat perlu sekali buat kamu yang mobilitas tinggi. Tentu saja dengan adanya fitur ini kamu tidak perlu mengatur ulang pencahayaan layar laptop lagi, karena akan berjalan otomatis.

Pengalaman Seputar Brightness Screen di MacBook

Pernah suatu ketika, pengalaman pribadi saat tahun 2013 lalu bertemu dengan klien. Saya masih menggunakan MacBook putih saya. Karena memang biasanya saya kerja di rumah yang notabene pencahayaannya tidak seterang di luar rumah, maka pencahayaan yang saya pakai rendah.

Saat menghidupkan MacBook putih saya, saya mengalami hal yang sedikit menyulitkan ketika sudah masuk login screen. Karena pencahayaan layar yang sangat rendah, saya tidak bisa melihat login screennya. Saya tekan tombol pencahayaannya juga tak kunjung bisa karena memang tombol itu hanya bisa digunakan jika posisi login.

Jadi fitur ini sangat membantu sekali jika kamu sedang berada di luar rumah dan mengalami kejadian seperti yang saya alami.

Namun, untuk kasus kali ini, saya justru ingin mematikan fitur ini. Mengapa saya matikan? Karena saya berada di dalam rumah dan fitur ini kadang mengganggu dari sisi penghematan baterai. Fitur ini lebih boros baterai karena pencahayaan dengan intensitas cahaya tinggi lebih banyak mengkonsumsi energi. Oleh karena itu, saya memilih untuk mematikan fitur ini.

Cara Mematikan Fitur Auto Adjust Brightness Screen di MacBook

Berikut ini adalah cara mudah mematikan fitur Auto Adjust Brightness Screen di MacBook. Yang pertama, klik logo Apple yang ada di pojok kiri atas, lalu pilih System Preferencess. Setelah itu pilih Displays.


Di bagian "Automatically adjust brightness" hilangkan centangnya. Maka sekarang fitur tersebut telah kamu matikan.


Jadi, mudah sekali 'kan mematikan fitur Auto Adjust Brightness Screen di MacBook ini? Selamat mencoba. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kamu yang mengalami masalah seperti yang saya hadapi.
Selengkapnya
14 Sep 2017

Spesifikasi iPhone 8 dan iPhone X

14 Sep 2017  Iskandar Dzulkarnain  6 komentar
Selasa malam yang lalu Apple merilis sebuah smartphone yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang, terlebih bagi fanboy. Jika biasanya Apple hanya menginfokan satu jenis iPhone saja, kini ada dua jenis iPhone. iPhone 8 dan iPhone X.


Sebelumnya sih sudah dirumorkan bakal ada iPhone X, bahkan ada yang berspekulasi bahwa iPhone 8 tidak ada, penggantinya adalah iPhone X. Namun, ternyata dugaan itu keliru. Apple mengeluarkan dua macam iPhone sekaligus, iPhone 8 dan iPhone X.

Spesifikasi iPhone 8 dan iPhone 8 Plus

Tak seperti iPhone 7 yang didukung banyak warna, iPhone 8 dan iPhone 8 Plus ini hanya mendukung 3 warna pilihan saja. Warna-warna  tersebut adalah Gold, Silver, Space Gray. Mungkin Apple melihat 3 warna tersebut yang paling banyak diminati dari model iPhone yang dirilis sebelumnya.

Dari sisi kapasitas storage, ada 2 macam yaitu 64 GB dan 256 GB dengan RAM 2 GB. Display-nya sendiri untuk iPhone 8 berukuran 4.7 inci, untuk iPhone 8 Plus 5.5 inci. Kedua model tersebut sudah mendukung 3D touch, yang sebelumnya tidak dimiliki oleh iPhone 7. Chip yang dipakai iPhone 8 dan iPhone 8 Plus ini sudah menggunakan A11 Bionic chip with 64-bit architecture, Neural Engine, Embedded M11 motion coprocessor; tidak seperti iPhone 7 yang masih menggunakan A10. Jadi bisa kamu bayangkan perfomanya yang gesit saat menjalankan aplikasi di iPhone 8 ini.

Dari segi kamera, masih sama dengan pendahulunya. Kamera belakang masih memakai resolusi 12 MP dan kamera depan beresolusi 7 MP. Touch ID ini masih tetap dipertahankan, tidak seperti di iPhone X yang tak lagi memakai Touch ID. Oh ya, untuk urusan headphone, sama dengan iPhone 7 yang sudah tidak mendukung lubang jack 3.5mm. SIM card-nya menggunakan Nano SIM.

Spesifikasi iPhone X

Spesifikasi iPhone X sendiri sebenarnya tidak jauh beda dari iPhone 8. Hanya saja seperti yang kamu lihat sendiri pada gambar di atas, iPhone X ini layarnya unik. Hampir memenuhi semua bagian depan ponsel. Display layar iPhone X ini dibilang terbesar yang pernah ada di model iPhone, yaitu 5.8 inci (lebih besar dari iPhone 8 Plus). Namun ukuran ponselnya lebih kecil dari iPhone 8 Plus.

iPhone X ini menghilangkan tombol Home yang biasanya khas sekali milik iPhone. Touch ID juga dihilangkan dan diganti dengan Face ID. Layarnya pun lebih bagus dari iPhone 8. iPhone 8 masih menggunakan Retina HD Display, sedangkan iPhone X ini sudah menggunakan Super Retina HD Display. Jadi pasti gambar yang ditampilkan sangat-sangat halus.

Pilihan warna iPhone X ini lebih sedikit lagi, karena hanya ada warna Silver dan Space Gray. Sepertinya sih memang disengaja hanya dua warna. Bayangkan saja warna Gold ini akan aneh jika dikombinasikan dengan bentuk layar iPhone X yang seperti itu.

Oh ya hampir saja lupa. Kedua iPhone tersebut sudah mendukung Wireless Charging loh. Berbeda dengan iPhone 7 yang tidak bisa Wireless Charging. Sebenarnya ini bukan hal yang baru lagi, karena Samsung sudah mendahului dalam teknologi ini di tahun 2016 lalu.

Itulah ulasan singkat yang bisa saya sajikan mengenai iPhone 8 dan iPhone X. Kabarnya kedua iPhone tersebut akan beredar di pasaran Oktober 2017 mendatang. Jadi, sudahkah kamu menabung untuk beli iPhone 8 atau iPhone X? Kalau saya menjawab, pasti jawabnya tidak. Hehe. Hargan kedua iPhone ini terbilang mahal. Kecuali untuk kamu yang penasaran dan punya uang lebih.
Selengkapnya