Entri yang Diunggulkan

Program Trial 90 Hari Affinity Ada Lagi

Tampilkan postingan dengan label Browser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Browser. Tampilkan semua postingan
3 Mei 2021

Mencoba Firefox 3.0 di Tahun 2021, Hasilnya? Kacau!

3 Mei 2021  Iskandar Dzulkarnain  2 komentar

Teknologi memang terus berkembang. Mau tidak mau, ya harus mau, kamu harus beradaptasi dengan teknologi terbaru saat ini. Jika tidak, kamu akan merasa berada di tempat yang asing dan merasa aneh.

Sekedar iseng melakukan apa yang terlintas di otak saya. Bagaimana yah kalau mencoba menggunakan browser zaman dulu di zaman sekarang. Apa yang terjadi. Inilah yang melatarbelakangi saya untuk mencoba lagi Firefox 3.0 yang dirilis tahun 2008 lalu. Umm, sekitar 13 tahun yang lalu. Hehe.


Jika kamu penasaran saya dapat installer-nya dari mana? Tentu saja dari website resminya Firefox. Di sana kamu bisa melihat arsip installer Firefox sejak zaman awal-awal mereka membuatnya.

Percobaan Membuat Laman Blog Milik Saya

Untuk melihat apakah browser jadul bisa membuka website zaman sekarang, saya mencoba beberapa blog yang saya punyai. Macam-macam sih responnya.

Blog Iskael


Ya, blog ini. Jika dibuka dari Firefox 3.0, tata letaknya kacau balau. Sepertinya ini masalah CSS.

Blog Ngetik


Selanjutnya saya mencoba blog Ngetik. Gambar yang di homepage tidak muncul. Sepertinya ada masalah dengan JavaScript yang dipakai. Karena JavaScript ini tiap tahun mengalami pembaharuan. Sepertinya ada syntax yang tidak didukung.

Blog Strategiblog


Cuma putihan doang. Hehe. Sepertinya memang ada issue di JavaScript-nya juga.

Blog Blogisme


Tidak mau buka sama sekali. Malah ada warning. Hehe. Sepertinya ada masalah dengan versi SSL-nya. Karena Firefox 3.0 ini sangat lawas, jadi susah untuk menerjemahkan SSL yang baru.

Kesimpulan

Itulah beberapa gambaran umum jika kamu menggunakan teknologi lawas untuk berselancar di website yang rata-rata sudah menggunakan teknologi terbaru. Yang terjadi adalah banyak kekacauan.

Belum lagi jika kamu masih menggunakan Windows XP dan berselancar menggunakan Internet Explorer yang itu adalah teknologi tahun 2003. Saya tidak tahu bagaimana stress-nya. Hehe.

Itulah mengapa Windows XP dan Windows 7 sudah layak digudangkan. Digunakan pun paling-paling menambah masalah. Untungnya sudah digudangkan. Dulu saya masih pernah mengalami membangun website di tahun 2013 tapi harus support dengan Internet Explorer 6 (bawaan Windows XP). Betapa menyebalkannya saat itu. Hehe.

Selengkapnya
26 Feb 2020

Pengalaman Mencoba Opera GX, Browser untuk Gamer

26 Feb 2020  Iskandar Dzulkarnain  Beri komentar
Saat ini browser adalah aplikasi yang paling sering dibuka oleh banyak orang saat menggunakan komputer. Hal ini sangat wajar, karena lebih dari 50% kegiatan di depan komputer adalah berinternet. Sayangnya, dengan kemajuan teknologi yang pesat, semakin hari browser menjadi momok tersendiri. Browser semakin menjadi RAM killer. Untuk spesifikasi laptop yang entry level, rasanya agak terseret-seret saat membuka browser, terlebih lagi Google Chrome.


Nah, buat kamu yang punya laptop spek pas-pasan, saatnya beralih di browser yang tidak boros RAM. Beberapa pilihannya adalah Firefox dan Opera. Saya sendiri pernah membandingkan menjalankan Firefox di laptop Macbook putih jadul Mid 2010 saya, rasanya lebih ringan dibandingkan dengan Chrome.

Kelebihan Opera GX


Fitur Pembatasan Pemakaian Koneksi Internet

Selain Firefox, Opera juga tak kalah berinovasi dengan browser barunya yaitu Opera GX, Gaming Browser. Kedengarannya memang aneh, browser untuk gaming memangnya letak istimewanya di mananya? Letak istimewanya adalah kamu bisa membatasi koneksi internet yang dikonsumsi oleh browser Opera GX ini. Jadi misal nih kamu nge-game sambil internetan, game-mu tidak akan terganggu koneksinya.

Jika kamu pernah menggunakan Internet Download Manager pasti tahu manfaat dari fitur pembatasan koneksi upload-download. Karena jika tidak dibatasi, Internet Download Manager ini akan menggunakan seluruh koneksi yang menyebabkan kamu tidak bisa browsing dan aktivitas lainnya yang membutuhkan koneksi internet.

GX Control di Opera GX

Fitur Pembatasan Pemakaian RAM

Saya sendiri jujur tertarik memasang Opera GX ini karena bisa mengalokasikan RAM yang dipakai. Karena semakin banyak RAM yang dikonsumsi, artinya semakin besar daya yang dipakai. Alhasil baterai laptop akan cepat habis.

Setelah beberapa melakukan uji coba, akhirnya saya tahu mekanisme Opera GX ini dalam pembatasan RAM. Jika kamu mematasi penggunaan RAM terlalu kecil, misal 1 GB saja, maka jika kamu buka banyak tab, tab yang pasif akan diterminasi prosesnya. Sehingga jika kamu membuka tab pasif tersebut, akan memuat ulang.

Mekanisme ini bagus menurut saya jika kamu tipikal orang yang tidak suka mendengar suara kipas laptop berputar kencang. Apalagi kebiasaan banyak orang—termasuk saya—membuka banyak tab dan malas menutupnya karena takut dibutuhkan lagi.

Fitur Pendukung Gaming

Selain fitur yang saya sebutkan, masih banyak fitur pendukung gaming yang bisa kamu dapatkan di Opera GX ini, antara lain GX Corner dan Twitch yang ada di sidebar. Di GX Corner kamu bisa melihat info rilis game terbaru dan jadwal rilis game yang akan datang.

Bagaimana? Keren 'kan browser ini? Penasaran ingin mencobanya juga? Kamu bisa mengunduhnya di laman resmi Opera GX.
Selengkapnya
9 Agu 2018

Pengalaman Mencoba Vivaldi, Browser Chrome Versi Ringan

9 Agu 2018  Iskandar Dzulkarnain  2 komentar
Vivaldi. Salah satu browser yang disebut-sebut cukup ringan oleh banyak orang. Sebenarnya saya sudah tahu bahwa browser ini ada sejak beberapa tahun yang lalu. Namun saya belum tertarik mencobanya. Awalnya saya pikir "sama saja" dengan Opera dan Firefox Quantum. Ternyata dugaan saya salah.


Untuk kamu yang tidak bisa lepas dengan Google Chrome, Vivaldi ini bisa menjadi alternatif. Pasalnya kita semua tahu bahwa Chrome adalah browser yang paling banyak mengkonsumsi RAM komputer kita. Sedangkan Vivaldi menjawab tantangan itu, browser ini mampu memberikan pengalaman yang hampir sama dengan Chrome namun hemat RAM.

Mengapa saya berkata begitu? Saya sudah mencoba membandingkan di laptop MacBook tua (Mid 2010) dengan RAM 4 GB. Untuk membuka Chrome butuh sekitar 10 detik menunggu. Sedangkan untuk membuka Vivaldi hanya butuh sekitar 2 detik saja. Saya sengaja mengetesnya di laptop dengan RAM pas-pasan agar terlihat bedanya.

Tampilan Vivaldi

Yang paling mencolok dari Vivaldi selain ringannya adalah tampilannya yang bisa diubah sesuai keinginan. Berikut ini adalah tampilan awal theme bawaan Vivaldi yang bernama Redmond.

Saat buka Blogger

Saat buka Gmail

Selain itu, kamu bisa menambahkan theme sendiri sesuai dengan keinginanmu. Kamu juga bisa mengatur mode malamnya juga.

Membuat theme sendiri di Vivaldi

Mengubah preferensi theme

Gesture

Selain tampilan, kamu bisa menikmati gesture di browser Vivaldi ini. Gesture ini gunanya semacam seperti shortcut. Hanya saja kamu memanggilnya dengan bantuan mouse atau trackpad.


Selain gesture bawaan, kamu bisa juga membuat gesture dengan gayamu sendiri.

Profiler

Secara bawaan, di Vivaldi ini hanya memakai satu profile. Berbeda dengan Google Chrome yang bisa membuat banyak profile di satu browser. Karena Vivaldi ini berbasis Chrome, kamu bisa memanggil fitur Profiler tersebut dengan cara mengetikkan di address bar Vivaldi chrome://settings. Lalu kamu akan disuguhi dengan tampilan di bawah ini.

chrome://settings

Bisa menambah profile

Kamu tetap bisa menambah profile dan menggunakan profile tersebut. Hanya saja yang belum saya temukan di Vivaldi ini adalah sync profile Google seperti yang ada di Chrome. Di Vivaldi ini kamu hanya bisa import dan export data saja, bukan sync. Mungkin fitur ini sengaja dihilangkan agar Vivaldi ini tetap ringan.

Itulah beberapa yang dapat saya ceritakan saat mencoba Vivaldi. Kamu bisa mencobanya sendiri dan menemukan banyak hal unik lainnya di browser ringan yang satu ini. Selamat mencoba!
Selengkapnya