Entri yang Diunggulkan

Siempre: Template Blogger Ringan Tanpa jQuery

Tampilkan postingan dengan label Aplikasi Android. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aplikasi Android. Tampilkan semua postingan
3 Okt 2020

Alasan Mengapa Banyak Orang Pakai WhatsApp

3 Okt 2020  Iskandar Dzulkarnain  Beri komentar

Hampir tidak ada manusia di Indonesia yang berkomunikasi tidak menggunakan WhatsApp. Bahkan bagi generasi tua yang baru-baru ini mengenal internet memahami bahwa WhatsApp adalah satu-satunya aplikasi chat. Padahal kan banyak di luar sana aplikasi sejenis WhatsApp, semisal Telegram, LINE, Vibe, Nimbuzz, dan sebagainya.

Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa orang banyak pakai WhatsApp. Saya sendiri juga kadang heran, semua urusan diselesaikan di WhatsApp, padahal kadang bikin pusing. Tahu sendiri kan, WhatsApp itu aplikasi chatting, bukan untuk task list.

Berikut ini adalah beberapa kelebihan WhatsApp sehingga banyak dipakai orang untuk berkomunikasi.

Aplikasi Chat Sejuta Umat

Alasan yang pertama mengapa WhatsApp ini banyak dipakai adalah karena aplikasi ini sudah kadung jadi aplikasi sejuta umat. Saya sendiri mengikuti perkembangan WhatsApp sejak masih belum banyak orang yang pakai. Dulu rata-rata orang memakai BlackBerry Messenger (BBM).

Hanya saja untuk kaum mendang-mending yang tidak punya banyak uang, tentu BBM ini susah dipunyai. Perangkat BB saat itu mahal. Akhirnya mereka mencari alternatif aplikasi chat yang lainnya. Untuk anak mudah sendiri biasanya pakai LINE. Namun, untuk yang malas bikin username dan lain-lain, dan maunya username langsung pakai nomor telepon, ya pakainya WhatsApp.

Kemudahan pakai nomor telepon langsung seperti ini ternyata disukai oleh banyak orang. Bahkan ini sebagai penanda bahwa yang punya akun WhatsApp itu memang benar-benar pemilik nomor telepon tersebut. Hal ini bisa meminimalisir penyalahgunaan akun oleh penipu.

Karena makin lama makin banyak jumlah pengguna Android, maka WhatsApp pun semakin jaya. Wajar sih, harga ponsel Android jauh lebih murah dan terjangkau dibandingkan dengan ponsel BlackBerry.

Cocok untuk Bisnis

Di masa pandemi seperti itu kamu bisa melihat sendiri banyak sekali kontak di aplikasi WhatsApp-mu update stories/status WA dengan barang dagangannya. Itulah saya bilang mengapa WhatsApp ini cocok untuk bisnis.

Selain itu, WhatsApp juga menyediakan aplikasi sendiri untuk bisnis yang lebih powerful, yaitu WhatsApp Business. Dengan WhatsApp Business akan lebih mudah, karena bisa memberikan label pengguna, template pesan, katalog produk, dan banyak lagi fitur bisnis lainnya.

Banyak Jenis WhatsApp Mod

Kelebihan lainnya dari WhatsApp ini adalah banyaknya orang yang membuat aplikasi Mod (modifikasi) untuk kebutuhan yang lebih banyak. Kamu bisa melihat beberapa contoh jenis aplikasi mod WhatsApp di Kriing.com.

Di sana ada mod yang digunakan untuk memperbesar limit pengaturan WhatsApp. Seperti GB WhatsApp yang bisa memperbesar limit file yang dikirim dari 15 MB ke 50 MB, memperbesar jumlah karakter dari 139 karakter menjadi 255 karakter, dan masih banyak lainnya.

Terdapat API Template Chat

Saya sendiri tidak menemukan fitur ini di Telegram. WhatsApp mempunyai API template chat yang memudahkan penjual maupun pembeli saat transaksi jual beli.

Bagi penjual, penjual bisa mendeteksi ini template chat dari funnel marketing yang mana. Bagi pembeli, pembeli tidak perlu ketik-ketik lagi karena sudah ada template chat yang tinggal dipencet kirim saja.

Menyediakan API Robot (Berbayar)

Untuk API robot ini sering kali dijumpai di nomor WhatsApp toko online maupun layanan publik. Misal nomor WhatsApp Gugus Covid-19 yang bisa autoreply dan kamu bisa tahu info terbaru kasus Covid-19 di Indonesia.

Fitur API Robot ini berbayar dan tidak dibuka untuk semua pengguna WhatsApp. Jika kamu belum pernah tahu fitur ini, sangat wajar sih.

Kesimpulan

Itulah beberapa alasan mengapa banyak orang memakai WhatsApp yang bisa saya tulis. Sebenarnya masih banyak alasan lainnya yang bisa dieksplor terkait WhatsApp ini dari fitur-fitur yang tidak dimiliki oleh aplikasi chat lainnya.

Selengkapnya
22 Feb 2016

Obrolan Ringan dengan Pegawai Pos

22 Feb 2016  Iskandar Dzulkarnain  Beri komentar
Hari ini seperti tanggal-tanggal tua lainnya, saya memang rajin ke Kantor Pos untuk membayar tagihan listrik dan air rumah orang tua saya. Karena memang saya masih belum punya rumah sendiri, jadi numpang dulu sementara. Haha. Tapi, ada yang beda untuk hari ini. Hari ini sekaligus saya mengambil uang dari Western Union. Hari ini adalah payout kedua saya setelah setahun lebih bermain Google AdMob. Tapi tetap saja, meskipun dari Google AdMob, saya mengaksesnya lewat Google AdSense.

Saya yakin di Hari Karung Nasional ini banyak sekali blogger maupun developer game yang bayaran dari Google. Nominalnya juga sangat bervariasi, dari yang jumlahnya kecil hingga jumlahnya fantastis; bisa dibuat beli rumah. Saya termasuk orang yang penghasilan dari Google terbilang kecil, jika dibandingkan dengan pemain Google AdSense lainnya.

Tidak seperti blogger lainnya, saya bayaran dari Google AdSense terhitung sangat-sangat lama, karena yang kedua ini harus menunggu empat bulan baru bisa bayaran. Tentu jika untuk payout saja menunggu waktu 4 bulan, maka bisa dikira-kira sendiri lah berapa jumlah bayarannya.

Saya pun ke Kantor Pos terdekat dengan rumah. Lalu seperti biasanya saya mengisi formulir Western Union yang disediakan. Karena pegawai Pos nya masih muda, sepertinya dia penasaran dengan pencairan dana yang saya lakukan. Dia melihat pengirimnya dari Google Singapura. Kemudian pegawai itu bertanya pada saya.

"Mas, ini bayaran dari Google yah?"
"Iya, Mas."
"Dari Google AdSense yah? Alamat blog-nya apa?"
"Iya, dari Google AdSense, tapi saya tidak main di blog. Saya main di Google AdMob."
"Sama kayak Google AdSense yah?"
"Iya, Google AdMob itu lebih ke aplikasi."
"Aplikasi apa, Mas?"
"Game, Mas."
"Pake Java?"
"Iya, Mas."
"Oh, Mas-nya anak teknik yah?"
"Iya, Mas."
"Owh, pantesan. Teman saya juga ada yang main Google AdSense, tapi lewat blog."
"Iya, kebanyakan memang pemain Google AdSense itu lewat blog, Mas."
"Eh, katanya ada yang sampe dapat ratusan juta yah?"
"Iya, Mas. Biasanya yang dapat raturan juta itu dia punya blog banyak dan sudah punya karyawan."

Dan masih cukup banyak percakapan yang terjadi antara saya dan pegawai Pos ini. Pegawai Pos ini masih muda, sekitar seumuran saya, dan sangat lazim dia juga mengetahui tentang Google AdSense ini. Jika dipikir-pikir memang sudah banyak orang yang memahami tentang cara mencari uang lewat internet ini. Setidaknya sudah mengurangi dugaan yang aneh-aneh jika mendadak kaya. Tapi, tetap saja jika menghadapi orang yang iri, meskipun dia tidak paham tentang dunia internet, maka dia bisa menuduh kamu ikut pesugihan babi ngepet. Hehe. Jika kamu menghadapi orang yang iri, jangan ditanggapi. Mending bikin aplikasi yang bisa dimonetasi.

Itulah salah satu pengalaman saya ngobrol dengan pegawai Pos di payout yang kedua ini. Saya yakin pasti banyak pengalaman lainnya yang lebih menarik. Saya pernah tahu ada seorang yang mengambil uang dari Google AdSense di bank. Menariknya pegawai bank-nya (perempuan) malah tertarik (mungkin jatuh hati karena melihat nominal yang diambil) dengan orang itu. Dan parahnya si pegawai bank tersebut tidak percaya kalau orang itu hanya lulusan SMP.
Selengkapnya
13 Nov 2015

Cara Menambahkan Kategori Pada Aplikasi Expense Manager

13 Nov 2015  Enny Law  Beri komentar
Kemarin saya sudah menulis sekilas mengenai aplikasi Expense Manager. Di sana saya mengeluh karena kurangnya kategori untuk mengelompokkan jenis pengeluaran. Eh ternyata saat saya iseng-iseng bukain opsi di aplikasi tersebut barulah saya menemukan cara untuk menambah kategori sesuai keinginan.

Maklumlah, waktu itu gak ubek-ubek aplikasinya. Cuma dipake doang gak berusaha mempelajari lebih lanjut tentang aplikasi tersebut. Jadi saya pikir ya cuma kayak gitu aja. Tapi ternyata gak begitu. Saya jadi makin suka dengan aplikasi Expense Manager.

Cara Menambahkan Kategori Pada Aplikasi Expense Manager

Untuk menambahkan kategori pada aplikasi Expense Manager sangat mudah. Pertama buka aplikasi Expense Manager. Pada kanan atas tekan icon di sebelah icon "plus" lalu pilih "Setting".

Pilih "Setting"
Pada bagian Expense pilih "Categories".

Pilih Opsi "Categories"
Kemudian akan muncul macam-macam kategori yang ada. Jika ingin menambah kategori sesuai keinginan, klik icon "plus" pada kanan atas.


Tekan Icon "Plus"
Pada bagian "Name" isi nama kategori sesuai keinginan. Setelah itu kita bisa menentukan warna kategori sesuai dengan keinginan. Jika sudah selesai pilih "Save".

Tekan "Save"
Kamu akan melihat kategori kamu sudah berada di tempatnya.

Kategori Sudah Bisa Digunakan
Mudah bukan caranya? Sekarang kamu bisa mengelompokkan pengeluaran sesuai dengan jenis yang kamu butuhkan. Keren yah?
Selengkapnya
12 Nov 2015

Pantau Pengeluaran Dengan Expense Manager

12 Nov 2015  Enny Law  2 komentar
Sebagai ibu rumah tangga mengatur keuangan memang hal yang biasa. Tapi terkadang kita terlalu malas mencatat pengeluaran tiap bulannya karena malas berurusan dengan bolpen dan kertas. Saya memang termasuk orang yang malam mencatat pengeluaran. Soalnya memang lumayan ribet. Belum lagi kalau saya menggang kertas dan bolpen Aisyah bakalan ikutan coret-coret, jadi makin malas.

Di jaman yang serba digital ini memang banyak sekali aplikasi yang dapat kita manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa waktu yang lalu saya diberitahu oleh kakak saya mengenai aplikasi Expense Manager. Aplikasi ini berguna untuk mencatat pengeluaran dengan mengkelompokan jenis pengeluarannya.

Mengelompokkan Pengeluaran Dengan Kategori

Pengerluaran tiap bulannya tentu bermacam-macam. Ada keperluan untuk makan sehari-hari ada juga untuk bayar listrik atau air. Kalau sekedar ditulis di buku kita akan sulit mengetahui pengeluaran terbesar kita dalam sebulan. Pada aplikasi Expense Manager kita dapat mengelompokkan pengeluaran sesuai dengan jenisnya.

Pengeluaran Kategori Transportation
Pada aplikasi Expense Manager ada lima kategori untuk mengelompokkan jenis pengeluaran. Pengeluaran dapat dikelompokkan menurut kategori yang ada yaitu kategori Other, Food and Drinks, Health, Transportation, dan Leisure. Dengan mengelompokkan pengeluaran maka kita akan mengetahui pengeluaran manakah yang mengahabiskan banyak budget.

Terbatasnya Jumlah Kategori

Tapi menurut saya kategori pada aplikasi Expense Manager ini kurang banyak. Atau seenggaknya kita bisa bikin kategori sendiri yang sesuai kebutuhan. Pada aplikasi Expense Manager gak ditemui kategori untuk budget pendidikan. Padahal ini juga termasuk penting. Apalagi bagi emak-emak yang anaknya sekolah.

Karena kategorinya sedikit, untuk pengeluaran yang gak ada jenisnya di kategori, saya masukan ke dalam kategori "Other". Dan tiap pengeluaran saya berikan catatan supaya saya mengetahui uang ini dikeluarkan untuk keperluan apa. Tapi meski begitu saya lebih suka memberi catatan pada tiap pengeluaran yang ada. Sehingga saya dapat lebih detail mengetahui pengeluarannya digunakan untuk apa.

Bagi saya aplikasi Expense Manager ini sangat berguna untuk memantau ke mana saja uang kita dihabiskan. Pernah gak sih kalian merasa pemasukan sudah sangat besar tapi kok akhir bulan gak ada sisa uang? Nah untuk mengatasi hal tersebut kita bisa menggunakan aplikasi ini. Sehingga kita gak ragu-ragu lagi dan mempertanyakan uang kita ke mana aja sih.

Dengan adanya Expense Manager saya jadi rajin banget untuk mencatat pengeluaran tiap harinya. Dan memang seharusnya begitu sih. Kalau gak gitu apa gunanya dong punya aplikasi canggih. Nanti malah gak kerasa manfaat aplikasinya kalau males-males nyatet pengeluaran.
Selengkapnya