Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
21 Des 2019

Berbagai Manfaat Eksperimen Sederhana untuk Anak

21 Des 2019  Iskandar Dzulkarnain  Beri komentar
Tahukah Anda jika eksperimen sederhana merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi perkembangannya. Selain itu, ketika melakukan sebuah eksperimen, anak-anak menjadi lebih bersemangat, dan mungkin menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanpa kita ketahui, ada berbagai macam manfaat melakukan eksperimen ini bersama dengan buah hati.


Manfaat Melakukan Eksperimen Sederhana

Berikut beberapa manfaat melakukan eksperimen secara sederhana bersama dengan buah hati, antara lain:
  1. Anak-anak pada dasarnya memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Melakukan eksperimen dapat membantu memuaskan keingintahuan mereka serta menjawab pertanyaan mereka.
  2. Eksperimen juga mengajarkan buah hati mengenai ilmu kehidupan dan yang terjadi mengenai kesehariannya ketika bereksperimen, nantinya anak-anak akan bertanya, dan seperti mengajak berdiskusi. Dari sana, mereka akan lebih belajar mengenai berpendapat dan mendengar. Selain itu anak-anak juga bisa lebih belajar mengenai kesabaran, karena mungkin mereka harus menunggu eksperimen tersebut selesai.
  3. Melatih konsisten, dan mengatasi masalah. Tak hanya melatih buah hati untuk mengemukakan pendapat, nantinya mereka juga akan lebih belajar konsisten dan tidak mudah menerima pemikiran orang lain.
  4. Membantu buah hati membuat hipotesis mengenai hal-hal yang mungkin terjadi.
  5. Mengajarkan mereka bagaimana setiap kejadian dapat terjadi, sehingga nantinya juga akan memunculkan ide baru dan merangsang kemampuannya untuk mencari berbagai penyelesaian di tiap masalah.

Berbagai Eksperimen Sederhana

Jika sekarang Anda ingin melatih buah hati untuk membuat eksperimen sederhana, berikut beberapa eksperimen yang bisa dijadikan sebagai pilihan percobaan, antara lain:

1. Pelangi di dalam botol

Untuk membuat warna yang cantik seperti pelangi di dalam botol, Anda bisa menuangkan madu di dalam toples kaca, kemudian tambahkan sabun pencuci piring berwarna hijau, campurkan air dan pewarna makanan. Tambahkan minyak zaitun serta alkohol yang sudah dicampur dengan pewarna merah.

Lakukan dengan hati-hati, hindari menuangkannya di bagian tengah karena alkohol dapat melewati lapisan air dan minyak yang sudah diwarnai. Mainkan dengan menggunakan pipet yang di tetes ke dalam botol kaca. Agar eksperimen yang Anda lakukan ini berhasil, perhatikan masa jenis cairan, seperti madu, mempunyai masa yang berat, oleh sebab itu susun madu di bagian bawah dan yang paling ringan ada di bagian atas.

2. Pasta gigi besar

Eksperimen ini menggunakan hidrogen peroksida, ragi, cat air, gliter, sabun cuci piring serta warna cat. Pada eksperimen ini, tambahan ragi yang nantinya membuat reaksi di mulai. Hal ini disebabkan karena ragi bertugas sebagai katalis serta mempercepat pelepasan gas oksigen. Saat gas bertemu dengan sabun, nantinya akan terbentuk busa yang lembut. Tetapi lakukan dengan hati-hati dan gunakan kaca pelindung ketika mempraktekkan eksperimen pasta gigi besar ini. Lebih-lebih jika Anda mempraktekkannya bersama dengan buah hati.

3. Hujan indah

Untuk membuat hujan dan awan, Anda membutuhkan beberapa bahan sederhana seperti krim cukur, air, stoples, serta pewarna makanan. Isi stoples dengan menggunakan air, kemudian tutup bagian atas menggunakan krim cukur. Tambahkan pewarna makanan yang akan mewarnai awan hingga warnanya turun secara perlahan dalam air. Proses ini menunjukkan seperti air turun ke bumi.

Dari berbagai macam eksperimen di atas, mana yang akan Anda praktekkan bersama dengan buah hati? Jika ingin mempraktekkan eksperimen sederhana lain, pastikan Anda memilih eksperimen yang mudah, selain itu hindari memilih eksperimen yang menggunakan bahan berbahaya, hal ini demi menjamin keselamatan buah hati.
Selengkapnya
23 Jan 2019

Sekarang, Anda Dapat Mengenal Jenis-Jenis Bau dan Aroma dengan Virtual Reality, Loh

23 Jan 2019  Iskandar Dzulkarnain  Beri komentar

VR edukasi telah beberapa kali unjuk gigi dalam memudahkan siswa selama belajar. Namun, bukan itu saja loh bentuk edukasi yang ditawarkan virtual reality. Tahukah Anda bahwa kini VR mampu membuat penggunanya mencium bau?

Beberapa orang sangat suka mencium wewangian alami. Misalnya, bau tanah setelah hujan, wangi rumput yang baru dipangkas, atau sekadar wewangian dari pohon-pohon di hutan. Kini, bisakah Anda bayangkan berada di ruangan dalam rumah tapi mampu mencium bau-bauan dan aroma tersebut hanya dengan headset VR?

Indera penciuman manusia mampu membedakan lebih dari 1 triliun jenis bau yang berbeda, menurut ilmuwan Rockefeller University. Fakta ini sebetulnya bisa dimanfaatkan oleh para pengembang AR dan VR edukasi untuk melengkapi realitas maya sehingga lebih immersive. Caranya tentu saja bukan dengan menulis kode yang mencampur 3-4 aroma dasar untuk mendeskripsikan aroma kue, misalnya. Dengan kata lain, tak ada aroma yang bisa didigitalkan.

Namun, teknologi seputar aroma mulai merebak. Contoh, bioskop dan taman hiburan Disneyland menggunakan proyektor aroma untuk membangkitkan perasa yang mungkin saja tak kentara. Bagi filmmaker dan perancang taman hiburan, aroma merupakan alat untuk mendukung storytelling, sama seperti 3D atau audio.

Kendati demikian, teknologi aroma yang dibangun tempat seluas taman hiburan tak bisa diterapkan ke pengalaman AR/VR begitu saja.

AR/VR merupakan pengalaman individu sehingga harus ada perangkat yang cukup padat untuk disematkan di headset.

Namun baru-baru ini, ada inovasi terbaru untuk membantu penciuman menggunakan teknologi Virtual Reality yang dikembangkan oleh mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland.

Inovasi Terbaru untuk Membantu Penciuman Menggunakan VR

Sekumpulan mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland melakukan riset inovatif di Human-Computer Interaction Lab (HCIL). Mereka adalah Biswaksen Patnaik dan Andrea Batch yang ingin mengeksplorasi berbagai informasi terkait aroma sebagai pelengkap visual sekumpulan data.

Para mahasiswa tersebut mempresentasikan makalah tentang “penciuman informasi”, istilah yang mereka buat untuk kombinasi penciuman dan visualisasi informasi, di konferensi Berlin. Makalah mendeskripsikan rakitan dua prototipe--satu untuk komputer desktop, satu untuk VR headset--yang mengeluarkan essential oil melalui beberapa diffuser. Mereka juga merancang 3 jenis layout grafik yang berbeda di mana bau dapat membantu dalam menyampaikan data secara visual kepada pengguna.


Salah satu visualisasi jaringan yang dirancang Patnaik dan Batch terdiri atas data set Bitcoin. Setiap node berwarna mewakili rating transaksi rata-rata dari pemegang Bitcoin, yang juga dihubungkan dengan bau tertentu. Node-node ini ditautkan untuk mewakili transaksi antara pengguna. Niklas Elmqvist, profesor bidang informasi yang merupakan direktur HCIL, mengatakan bahwa visualisasi serupa bisa dirakit menggunakan data jejaring sosial, contohnya menggunakan data teman-teman di Facebook. Menurutnya, “Bau sangatlah powerful, tapi tak sekuat gambaran visual. Karena itulah kami menggabung visual dan bau.”

Wewangian Tertentu Membangkitkan Reaksi Emosional untuk Mengingat Peristiwa Tertentu

Kata Batch, literatur ilmiah menunjukkan wangi berkaitan dengan emosional seseorang dengan peristiwa tertentu sehingga mampu membantu mengingat kembali sebuah informasi. Wanita ini berteori bahwa sebuket kombinasi aroma bisa meningkatkan kemampuan seseorang mengingat informasi.

Patnaik menjelaskan maksud dari buket molekul berisi kombinasi aroma seperti ini, “Kalau saya tanya, ‘Seperti apa bau kafe favoritmu?’ Bukanlah wewangian yang spesifik. Bukan bau citrus, bukan bau lavender, melainkan kombinasi bebauan sehingga kita masih bisa mengenalinya.”

Wah, kita tunggu saja kapan pelengkap VR edukasi ini muncul juga di headset virtual reality Indonesia, ya. Simak juga yuk, update baru seputar AR dan VR di SmartEye.
Selengkapnya
24 Okt 2016

Pengalaman Memanfaatkan Remote Disc di Mac

24 Okt 2016  Iskandar Dzulkarnain  Beri komentar
Sebenarnya saya ingin menulis ini sejak 3 minggu yang lalu. Hanya saja kesibukan saya sudah melupakan saya dari ide menulis hal ini. Saya punya mengalaman yang cukup menyenangkan dengan produk Apple yang bisa saya bagikan di sini. Pengalaman itu adalah pengalaman memanfaatkan fitur Remote Disk yang dimiliki oleh perangkat Apple, khususnya MacBook. Ceritanya, tanggal 2 Oktober kemarin saya mendapatkan hadiah dari teman saya sebuah MacBook Air. Wow, banget 'kan? Hehe. Tapi, bukan untuk dimiliki yah, MacBook Air tersebut hanya untuk saya gunakan saja. MacBook Air tersebut untuk menunjang pekerjaan saya yang mengurusi IDCopy, sebuah situs penjual akun premium NitroFlare dan lain-lain. Kamu bisa melihatnya di langsung di website-nya apa yang IDCopy jual.

Nah, demi menunjang pekerjaan saya, maka saya pun harus memasan software Adobe Photoshop dan kawan-kawan di MacBook Air tersebut. Oh ya, saya tidak membajak loh yah. Saya memang punya lisensi Adobe yang saya beli saat saya masih mahasiswa dulu. Dan satu lisensi ini bisa digunakan untuk dua perangkat. Karena saya memilih membeli Adobe versi Mac, maka secara otomatis lisensi lebihnya harus diinstal di perangkat Mac juga. Jadi, selain karena memang saya lebih familiar menggunakan Mac dibanding Windows, alasan lisensi ini juga berpengaruh saat saya ditanyai teman saya mengenai laptop apa yang ingin dibelikan.

Baiklah, langsung ke poin intinya. Nah, saya kebingungan menginstal software Adobe di MacBook Air. Pasalnya MacBook Air memang tidak mempunyai DVD drive. Tahu sendirilah kamu bagaimana tipisnya MacBook Air. Sangat-sangat tipis dan ringan. Berbeda dengan MacBook putih milih saya yang lumayan berat. Karena setelah mencoba menyalin file langsung ke harddisk SSD MacBook Air tidak berjalan dengan baik (software menolak), maka mau tidak mau saya harus punya cara bagaimana mendapatkan DVD drive eksternal.

Eh, ternyata di saat saya puyeng memikirkan hal itu, saya melihat di sidebar Finder ada tulisan "Remote Disc". Nah di sinilah saya mulai mencari info mengenai Remote Disc di Google. Ketemu, ternyata bisa menggunakan DVD drive MacBook lain. Tak hanya itu, Remote Disk juga bisa digunakan dengan iMac dan komputer Windows yang ada DVD drive-nya. Hanya saja untuk digunakan di Windows ada software tambahannya. Berikut ini adalah tampilan saya me-remote DVD drive MacBook putih saya melalui MacBook Air menggunakan koneksi Wi-Fi di rumah.

remote DVD drive MacBook putih

mengakses DVD installer Adobe

Bagaimana? Keren bukan? Haha. Saya juga tidak tahu fitur ini karena memang tidak pernah memegang atau berurusan dengan MacBook Air sebelumnya.

Bagaimana cara melakukan Remote Disc? Caranya mudah. Di MacBook putih saya mengatur agar DVD drive saya bisa digunakan oleh MacBook lain. Kamu buka "System Preferences", pilih "Sharing" lalu centang "DVD or CD Sharing".

DVD or CD Sharing MacBook putih

Nah, setelah di MacBook putih saya atur demikian. Di MacBook Air klik pada "Remote Disk". Maka akan muncul ikon laptop MacBook putih tersebut. Selanjutnya, seperti kamu mengakses DVD dari laptop yang ada DVD drive-nya. Sangat mudah.

Dengan mengetahui pengalaman ini akhirnya saya tidak khawatir nantinya jika memiliki MacBook atau MacBook Air yang sekarang sudah tidak ada DVD Drive-nya. Itulah sekedar pengalaman saya. Semoga bisa bermanfaat bagi kamu pengguna MacBook Air.
Selengkapnya
20 Apr 2016

Pengalaman Ganti Baterai MacBook White Mid 2010

20 Apr 2016  Iskandar Dzulkarnain  6 komentar
Sebenarnya sejak September 2015 lalu baterai MacBook putih keluaran mid 2010 saya harus diganti baterainya. Pasalnya memang selama saya beli (tahun 2011), saya belum pernah ganti baterai. Lumayan lama, sekitar 5 tahunan. Pada tahun 2013 lalu juga saya pernah menulis mengenai cara merawat baterai Macbook di blog ini. Di entri itu, cycle count MacBook saya sudah mencapai 777. Terakhir saya lihat sebelum ganti baterai, cycle count-nya lebih dari 1.500. Sangat dimaklumi jika ada peringatan untuk segera diganti. Hebatnya, dalam kondisi harus diganti ini, ternyata baterai saya bertahan hingga 2,5 jam untuk aktivitas internetan.

Tepatnya, dua hari yang lalu saya mencari baterai MacBook untuk tipe A1342 milik saya. Untuk tipe MacBook A1342 memang tidak ada lagi stok baterainya. Namun, ada tipe baterai yang cocok walaupun bukan A1342, yaitu A1331. Cukup lama pencarian yang saya lakukan. Harga yang tersebar di internet memang agak gila. Ada toko sparepart MacBook di Jakarta yang jual dengan harga 1.075.000 rupiah. Saya geleng-geleng jika harus mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk baterai. Karena pengalaman mencari baterai pengganti untuk netbook istri saya, saya menemukan harga yang jauh fantastis di bawahnya, akhirnya saya putuskan untuk mencoba mencari-cari harga yang benar-benar termurah.

Di Tokopedia dan Bukalapak menurut saya adalah tempat yang tepat untuk mencari barang murah. Di Tokopedia saya temukan dengan harga paling murah 850.000 rupiah. Lebih murah sih, tapi itu masih relatif mahal. Saya cari di Bukalapak, saya temukan baterai A1331 dengan harga 780.000 rupiah. Namun, karena penjualnya jauh dari Surabaya, lumayan berat diongkos. Apalagi kalau toko online-nya hanya melayani kurir JNE saja. Saya cari-cari lagi sampai akhirnya ketemu penjual yang pas. Dia jual dengan harga 650.000 rupiah. Dan yang paling pas lagi adalah penjualnya di Surabaya.

Karena saya tidak sabaran saat itu, akhirnya saya add to chart dan langsung saya transfer. Istri saya bilang, kenapa saya tidak chat penjualnya dulu. Saya turuti saran dari istri saya untuk mengirim pesan pada penjualnya. Nah, saat konfirmasi saya baru tahu ternyata penjualnya mempunyai toko fisik di Hi-Tech Mall. Karena tahu hal ini, akhirnya saya minta penjualnya untuk COD-an. Penjualnya juga mau. Malah enak yah, penjualnya tidak perlu membungkus barangnya. Saya juga langsung dapat barangnya.

Pikir saya, saya pasang saja baterainya di rumah. Ternyata ketika di rumah, saya tidak bisa membuka bagian baterainya karena memang saya tidak punya obeng yang cocok. Besoknya saya bawa lagi ke toko yang jual baterai itu. Sedikit kebodohan karena saya terlalu percaya diri, padahal peralatan obeng di rumah memang tidak lengkap. Sesampainya di tokonya, baterai bisa dibuka. Ternyata karena obeng di rumah ujungnya tidak selancip milik penjualnya. Saya kira ada obeng khusus untuk membukanya.

Sesudah baterai baru dipasang, saya cek apakah bisa berjalan dengan lancar atau tidak. Alhamdulillah bisa berjalan dengan lancar. Dan saya cek apakah cycle count-nya kembali ke angka satu. Senangnya melihat angka cycle count masih satuan. Sebelumnya kan sudah 1.500 sekian.

Cicle count balik ke angka 1

Hal lain yang membuat saya senang adalah ketahanan baterai penggantinya. Dalam kondisi 67% saja bisa bertahan sekitar 5 jam 14 menit.

Tahan sampai 5 jam lebih

Saya berasa punya MacBook baru, padahal sudah 5 tahun yang lalu. Maklum, dengan ketahanan baterai seperti itu saya bisa lebih survive dalam beraktivitas. Sebulan kemarin, saat belum ganti baterai, aktivitas ngeblog kadang terganggu gara-gara baterai laptop yang cepat habis.

Sebenarnya masih ada keinginan lain untuk memperbaiki kondisi MacBook saya yang sudah tua ini. Bottom case sudah tidak karuan bentuknya. Ada lagi, sebenarnya saya juga ingin meng-upgrade storage harddisk MacBook ini. Hanya saja, semua terkendala biaya. Haha. Tidak bisa langsung beli sekaligus, masih ada kebutuhan primer lainnya yang harus dipenuhi.

Oh yah, bagi kamu yang ingin membeli baterai MacBook seri A1342, kamu bisa mencarinya di Bukalapak, nama tokonya Nusantara Notebook. Semoga saja stoknya masih ada. Terakhir saya lihat stok masih ada 4 baterai lagi.
Selengkapnya
28 Feb 2016

Membiasakan Diri Menggunakan Browser Safari

28 Feb 2016  Iskandar Dzulkarnain  Beri komentar
Mungkin beberapa orang tidak tahu apa itu browser Safari. Namun, bagi pengguna Mac OS, browser Safari sangatlah populer. Browser Safari ini adalah browser bawaan Mac OS, layaknya Internet Explorer. Hanya saja, Safari tidak menuai kecaman banyak penggunanya seperti Internet Explorer. Walaupun faktanya sekarang Windows sudah merilis browser baru yang bernama Edge.

Nah, kali ini saya akan membahas mengenai rencana saya seminggu kedepan untuk kembali menggunakan Safari sebagai browser default saya untuk berbagai aktivitas internet. Mengapa hal ini saya lakukan? Tentu saja saya mempunyai beberapa pertimbangan yang cukup signifikan untuk dijadikan alasan mengapa saya menggunakan browser Safari.

Browser Safari Lebih Ringan dari Google Chrome

Faktanya, saya adalah pengguna banyak browser. Bahkan dulu saya pernah memasang 10 browser di MacBook saya. Terdengar cukup gila sih, tapi memang itu yang saya lakukan. Dari beberapa browser yang saya pertahankan adalah Opera, Firefox, Chrome, dan tentu saja Safari.

Saya sangat jarang sekali menggunakan Opera karena memang tidak terbiasa. Kebanyakan saya menggunakan Firefox dan Chrome. Sesekali saya juga menggunakan Safari, namun tidak sesering kedua browser tersebut. Namun, antara Firefox dan Chrome, Chrome lebih ringan dan ramah CPU.

Nah, di sini saya membandingkan aktivitas CPU antara Chrome dan Safari. Saya lumayan dibuat kaget dengan performa Safari yang hemat pemakaian CPU. Saya sudah mengecek mengunjungi Facebook yang terkenal bikin berat, berikut ini adalah screenshot aktivitas CPU-nya.

Menggunakan Chrome

Menggunakan Safari

Safari bahkan bisa berubah menjadi sangat ringan dalam posisi idle. CPU idle bisa mencapai 96% saat saya idle Safari. Sedangkan pada Chrome, CPU idle cenderung masih sama (tidak beda jauh).

Namun, masih ada hal yang membuat saya sedikit terganggu saat menggunakan Safari. Saat saya mengedit artikel di dasbor Blogger, tepatnya saat menggunakan "Compose" cursor tidak berjalan lancar, terkesan putus-putus dan kadang cursor hilang. Anehnya, ketika saya cek di dasbor WordPress, hal ini tidak saya jumpai. Sepertinya memang ada JavaScript yang bermasalah saat menggunakan Safari di dasbor Blogger.

Meskipun hal itu saya alami, saya akan mencobanya menyesuaikan menggunakan Safari untuk aktivitas ngeblog dan lainnya selama seminggu. Jika saya nyaman, saya akan menggunakan Safari terus selanjutnya. Tentu saja hal ini karena pertimbangan lebih ringan dan tentunya menghemat baterai.

Jika kamu pengguna Mac juga, tak ada salahnya untuk mencoba memakai Safari sebagai default browser. Tentu saja browser Safari ini memang tidak se-powerful browser lainnya yang bisa ditambahi banyak add-ons.
Selengkapnya