29 Nov 2017

Pemanfaatan Sains dalam Perusahaan Sukanto Tanoto

Sains menjadi aspek penting dalam kesuksesan pengusaha Sukanto Tanoto. Pendiri Royal Golden Eagle (RGE) ini membuka selebar-lebarnya pendekatan ilmiah untuk peningkatan produktivitas. Selama ini Sukanto Tanoto dikenal sebagai pebisnis papan atas. Chairman RGE ini mampu mengembangkan perusahaannya dari skala lokal menjadi pemain besar di tingkat global.

Foto: Asian Agri

Cakupan bisnis utama Sukanto Tanoto adalah bidang sumber daya alam. RGE memiliki anak-anak perusahaan yang bergerak dalam industri kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, serta pengembangan energi.

Sekarang aset RGE diperkirakan telah mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat. Mereka juga memiliki cabang yang beroperasi di berbagai wilayah mancanegara mulai dari Singapura, Malaysia, Filipina, Tiongkok, Brasil, serta Kanada. Berkat hal itu pula perusahaan Sukanto Tanoto tersebut mampu membuka lapangan kerja untuk 60 ribu orang.

Melihat profil Sukanto Tanoto mentereng sebagai pebisnis, publik pasti akan merujuk kepada kejeliannya mengendus peluang usaha. Hal itu tepat. Namun, kesuksesan pria kelahiran Belawan tersebut juga tak lepas dari kemauannya untuk membuka diri terhadap perkembangan teknologi.

Di dalam RGE, sains menjadi faktor penting. Pendekatan ilmiah diterima dan dijalankan dengan baik di sana. Hal tersebut dilakukan demi peningkatan produksi.

Sains sangat diperlukan karena RGE menjalankan praktik berkelanjutan yang ramah lingkungan. Dalam industri kelapa sawit yang dijalankan oleh salah satu perusahaannya, Asian Agri, misalnya. Untuk mendapatkan bahan baku, Asian Agri mengelola perkebunan. Luasnya mencapai 160 ribu hektare yang 60 ribu di antaranya dikelola oleh para petani plasma yang menjadi mitra.

Asian Agri tidak membuka lahan baru untuk membuat perkebunan baru. Mereka hanya memaksimalkan perkebunan yang sudah dimiliki untuk memenuhi kebutuhan produksinya. Berkat itu, mereka mampu menghasilkan 1 juta ton minyak kelapa sawit per tahun.

Agar hasil perkebunan bisa maksimal, sains menjadi faktor penting. Asian Agri menyerahkannya kepada tim riset dan pengembangannya yang dinamai sebagai departemen Asian Agri R&D Centre.

Oleh Asian Agri, divisi riset dan pengembangan diberi dukungan besar. Mereka memiliki unit riset yang berlokasi di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Didirikan sejak 1989, unit riset ini berguna menjadi pusat penelitian praktik budidaya kelapa sawit.

Awalnya tim AA R&D Centre hanya memiliki tujuh orang anggota. Namun, untuk memperkuat pemanfaatan sains di Asian Agri, personel telah bertambah menjadi 46 staf dan 120 teknisi.

Mereka semua memiliki bidang kepakaran berbeda-beda. Staf AA R&D Centre berasal dari ilmu Agronomi, Tanah, Hama, Penyakit, Breeding, Bioteknologi. Tingkat pendidikannya juga mulai dari S1, S2, hingga S3 dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Kombinasi tim yang solid tersebut menghadirkan tim yang kompeten. Tidak mengherankan, banyak manfaat yang dipetik Asian Agri dari keberadaan AA R&D Centre.

Hal yang paling mencolok adalah kemampuan menghadirkan bibit kelapa sawit berkualitas. Patut diketahui, bibit unggul merupakan kunci kesuksesan perkebunan kelapa sawit. Pasalnya, sekali ditanam, pohon kelapa sawit baru bisa diganti ulang dalam 20 hingga 25 tahun sekali. Akibatnya, diperlukan bibit yang mampu mendukung hasil yang optimal.

Tim AA R&D akhirnya mampu melahirkan bibit unggul yang dinamai Topaz. Mereka bahkan bisa melepasnya ke publik pada 2004 setelah mendapat SK dari Menteri Pertanian.

Topaz dihasilkan dari penelitian panjang serta rekayasa genetika yang dilakukan oleh AA R&D selama sekian lama. Hasilnya adalah bibit yang menghasilkan kelapa sawit yang produktif.

Ketika ditanam, bibit Topaz akan menghasilkan kelapa sawit dengan tandan buah segar besar dan minyak yang tinggi. Selain itu, hasil produksi Topaz sudah tinggi sejak panen pertama. Kelebihan itu masih ditambah dengan karakteristik tanaman yang tumbuh tinggi lebih lambat dan mampu beradaptasi di beragam jenis tanah.

Sadar akan beragam keunggulan tersebut, Asian Agri menanam bibit Topaz di perkebunannya. Mereka juga menyebarkannya ke para petani plasma serta petani swadaya yang menjadi mitra.

“Bahkan demi meningkatkan produktivitas, Asian Agri terus berfokus pada intensifikasi dan terus mengembangkan Research & Development bibit kelapa sawit yang dapat menghasilkan produk minyak kelapa sawit yang tinggi,” kata Ang Boon Beng, Topaz Seeds Senior Breeder Asian Agri kepada Presiden Joko Widodo seperti dilaporkan oleh Perkebunan News.

Pengendalian Hama

Selain menghasilkan bibit unggul, pendekatan sains di Asian Agri juga berguna dalam pengelolaan perkebunan. Perusahaan Sukanto Tanoto ini juga memanfaatkan hasil pekerjaan AA R&D Centre dalam penanganan hama.

Foto: Asian Agri

AA R&D memang memiliki sejumlah solusi untuk pengendalian hama. Mereka menghasilkan biocontrol agent seperti Trichoderma untuk pengendalian penyakit yang disebabkan oleh Ganoderma. Selain itu, ada Metharizium untuk pengendalian hama kumbang tanduk (Oryctes), dan racun tikus.

Akan tetapi, berbeda dengan pemanfaatan Topaz, Asian Agri belum membukanya untuk publik. Beragam biocontrol agent tersebut masih digunakan secara internal di perkebunan-perkebunan Asian Agri.

Hal itu pula yang menjadi kunci kesuksesan produksi Asian Agri. Perkebunannya bisa dikelola dengan konsep terbarukan dan terus menghasilkan kelapa sawit yang tinggi.

“Maka pada kesempatan ini kami manfaatkan untuk mengedukasi dan mempromosikan kelapa sawit Indonesia yang lestari, berwawasan lingkungan, dan membangun kemitraan dengan para petani,” kata Bernard Riedo, Head of Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri menjawab permintaan Presiden Joko Widodo untuk membantu peningkatan produksi petani.

Selain bibit unggul dan penanganan hama, AA R&D Centre juga memberi dukungan kepada publik lewat laboratorium analitik. Siapa saja bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan analisis mendalam mengenai sebuah objek yang diteliti.

AA R&D Centre juga aktif memberikan layanan teknis dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan, kepedulian (awareness) dan keterampilan dalam menerapkan paket teknologi. Semuanya bisa digunakan untuk menghasilkan panen kelapa sawit yang tinggi.

Pemanfaatan sains di tubuh Asian Agri sangat bermanfaat dalam produktivitas perusahaan. Hal itu bukanlah pencapaian baru di tubuh RGE. Ada perusahaan Sukanto Tanoto lain yang juga melakukan pendekatan serupa.

Contohnya adalah Grup APRIL. Perusahaan yang bergerak dalam industri pulp dan kertas ini juga memaksimalkan tim riset dan pengembangannya untuk memaksimalkan proses produksi.

Dalam pembuatan pulp dan kertas, APRIL membutuhkan bahan baku dari kayu. Sama seperti Asian Agri, mereka juga mengelola perkebunan sendiri untuk mendapatkan kayu. Perusahaan Sukanto Tanoto ini menanam pohon akasia di kawasan konsesinya.

Peran penting sains terlihat nyata dalam praktik pengelolaan perkebunan APRIL. Berkat tim R&D, hasil perkebunan akasia APRIL terus meningkat. Sebagai gambaran, pada 1996, setiap satu hektare lahan perkebunan hanya menghasilkan kayu sebanyak 22 meter kubik. Namun, penelitian silvikultur tim R&D APRIL mampu mendorong peningkatan produksi. Pada 2010, hasil perkebunan melonjak menjadi 32 meter kubik per hektare. Pencapaian itu belum membuat APRIL puas. Mereka masih mengejar target agar setiap hektare lahan mampu menghasilkan 35 meter kubik. Targetnya hasil produksi tersebut sudah bisa dinikmati pada 2020.

Lagi-lagi bukti nyata pemanfaatan sains terlihat jelas. Berkat praktik riset dan pengembangan, perusahaan Sukanto Tanoto mampu mendapat hasil produksi yang tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar