9 Nov 2017

Komitmen Sukanto Tanoto Terhadap Perlindungan Lingkungan

Pandangan Sukanto Tanoto mengenai lingkungan patut ditiru oleh para pengusaha lain. Pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle ini menilai alam justru perlu dilindungi. Selain demi kelangsungan masa depan manusia, hal itu ternyata penting bagi bisnis.


Pemikiran Sukanto Tanoto patut diperhatikan. Sebagai pengusaha yang piawai memanfaatkan sumber daya alam sebagai produk bernilai tinggi, ia paham betul arti kelestarian lingkungan. Pria kelahiran Belawan pada 25 Desember 1949 ini justru memandang bisnis amat terbantu jika alam terus lestari.

Sukanto Tanoto berani mengatakan hal tersebut karena terjun langsung ke dalam beragam industri berbasis pemanfaatan sumber daya alam. Bersama Royal Golden Eagle, ia menekuni bisnis kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, viscose fibre, serta pengembangan energi.

Dalam operasional perusahaan, kelestarian alam memegang peran penting. Pasalnya, bahan baku untuk beragam produknya di Royal Golden Eagle tergantung terhadap hasil alam.

Royal Golden Eagle memiliki perkebunan yang dijalankan dengan konsep terbarukan. Perkebunan itu dijadikan sumber bahan baku utama beragam produk-produknya.

Memelihara tanaman amat tergantung terhadap kondisi alam. Jika cuaca tidak bersahabat atau ekosistem rusak karena kelestarian lingkungan diabaikan, perkebunan akan terkena dampaknya. Paling mudah mereka bisa gagal panen atau terkena serangan hama yang parah.

Oleh sebab itu, bisnis berbasis sumber daya alam amat berkepentingan terhadap kelestarian lingkungan. Jika kondisi alam terus baik, mereka akan menikmati buahnya. Atas dasar inilah, Sukanto Tanoto begitu serius berkomitmen dalam perlindungan lingkungan.

"Saya selalu percaya bahwa perlindungan lingkungan seharusnya tidak menjadi beban bagi perusahaan, tapi justru menjadi sebuah sumber daya yang kaya bagi perusahaan sepanjang hal itu dilakukan dengan perilaku yang baik dan komprehensif. Saya akan mengeluarkan uang untuk proteksi lingkungan, serta melakukan riset dan mengkajinya," kata Sukanto Tanoto.

Ucapannya dibuktikan secara nyata dengan menelurkan filosofi kerja 5C di dalam Royal Golden Eagle. Melalui prinsip kerja 5C itu, ia bermaksud memberi arahan dalam operasional seluruh perusahaan yang berada di bawah naungan RGE. Karena kelestarian alam sangat penting, Sukanto Tanoto memasukkan prinsip Good for Climate sebagai salah satu bagiannya.

Prinsip itu bisa diartikan sebagai kewajiban bagi semua perusahaan di dalam Royal Golden Eagle untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Hal itu harus terwujud nyata dalam semua operasi perusahaan sehari-hari.

Arahan ini akhirnya membuat Royal Golden Eagle berkembang menjadi perusahaan yang peduli terhadap lingkungan. Banyak contoh nyata yang bisa dikedepankan.

Di tubuh APRIL Group misalnya. Anak perusahaan Royal Golden Eagle yang berkecimpung dalam industri pulp dan kertas ini punya solusi jitu terhadap limbah. Daripada limbah merusak alam, APRIL berupaya mengubahnya menjadi energi listrik.

Mereka melakukannya dengan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas. APRIL memanfaatkan salah satu hasil buangan proses pembuatan pulp dan kertas yang disebut lindi hitam. Lewat sebuah ketel uap pemulihan raksasa, mereka mampu mengubahnya menjadi energi listrik.

Selain lindi hitam, APRIL juga bisa memanfaatkan kulit kayu terbuang selama proses pembersihan kayu menjadi listrik. Akhirnya energi yang diperoleh itu bisa digunakan untuk menjalankan operasional perusahaan.

Hal ini jelas sangat berguna bagi kelestarian lingkungan. Bagaimana tidak, energi listrik biogas jauh lebih ramah terhadap alam. Akibatnya kini komposisi penggunaan energi dari fosil di tubuh APRIL tinggal 15 persen. Sebanyak 85 persen sisanya telah menggunakan energi listrik dari biogas.

Lebih hebat lagi, APRIL mampu membantu masyarakat berkat pendirian pembangkit listriknya. Per tahun, APRIL sanggup menghasilkan listrik setara dengan 390 MW. Namun, sisa dua persennya atau sekitar 10 MW justru mereka salurkan ke masyarakat terutama di Pangkalan Kerinci yang menjadi basisnya.

Akibatnya, bukan hanya APRIL yang menikmati buah kehadiran pembangkit listrik biogas tersebut. Masyarakat juga turut memperoleh dampak positifnya.

Bukan hanya APRIL yang melakukan perlindungan lingkungan, anak perusahaan RGE lain juga menjalankan program serupa. Apical misalnya. Perusahaan yang bergerak dalam pemrosesan minyak kelapa sawit ini juga turut aktif menjaga kelestarian alam. Salah satu cara yang dilakukan ialah melacak sumber bahan baku yang diperolehnya.

Apical mewajibkan penyuplai bahan baku mengelola perkebunan kelapa sawit dengan konsep terbarukan. Tidak boleh ada pembakaran hutan untuk membuka lahan baru. Selain itu, pemanfaatan obat-obatan kimia untuk merawat kebun juga diminimalkan.

Dengan aturan tersebut, Apical bermaksud menanamkan kesadaran arti penting kelestarian lingkungan di kalangan para petani. Hasil yang didapat adalah sejumlah sertifikasi tanda praktik berkelanjutan di tubuh perusahaan dikantungi Apical. Beragam sertifikasi tersebut adalah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), International Sustainability & Carbon Certification (ISCC), serta Sustainability Assurance System (SAS).

PENDIRIAN TANOTO FORESTRY INFORMATION CENTER



Komitmen Sukanto Tanoto dalam perlindungan lingkungan tak hanya diwujudkan dalam beragam kegiatan di Royal Golden Eagle. Ia juga mengampanyekan kepeduliannya terhadap alam kepada publik.

Salah satu langkah yang ditempuh oleh Sukanto Tanoto ialah mendirikan Tanoto Forestry Information Center (TFIC) pada 2015. Melalui yayasan sosial yang didirikannya, Tanoto Foundation, ia mengagas pendirian TFIC di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Adapun tujuan pendiriannya adalah perlindungan terhadap hutan sekaligus pemanfaatan potensinya yang besar. Sukanto Tanoto melakukannya karena sadar arti penting hutan.

Indonesia dikaruniai hutan yang luas. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik per Februari 2017, hutan di negeri kita mencapai 126 juta hektare. Namun, luas itu akan terus menerus turun jika tidak dijaga. Pasalnya, laju deforestasi di Indonesia sangat tinggi. Per tahun setidaknya 450 ribu hektare hutan menghilang.

Kondisi ini sudah lama disadari oleh Sukanto Tanoto. Maka, TFIC ia gagas sebagai solusi. Ia berharap pemanfaatan kegiatan ilmiah akan mampu menjaga kelestarian hutan sembari tetap mengoptimalkan potensinya ekonominya yang besar.

"Semoga pusat informasi ini bermanfaat untuk dunia pendidikan dan pelaku sektor kehutanan serta memberikan kebaikan bagi masyarakat umum dan Indonesia. Apa yang kita buat harus baik untuk komunitas, masyarakat, dan harus bermanfaat untuk negara dan masyarakat. Dari awal, tujuan utama Tanoto Foundation adalah memang untuk menuntaskan kemiskinan melalui pendidikan," kata Sukanto Tanoto.

Di dalam TFIC terdapat beragam jurnal ilmiah mengenai hutan. Di sana juga tersedia beragam panel informasi kehutanan. Keberadaannya diharapkan akan meningkatkan gairah riset tentang hutan di Indonesia. Oleh karena itu, IPB diharapkan membuka kerja sama dengan perguruan tinggi lain di Indonesia maupun luar negeri untuk mengoptimalkan TFIC.

"TFIC diharapkan bisa menjadi hub bagi networking dan kolaborasi IPB dengan universitas lain dan lembaga riset dunia, serta pelaku dalam bidang kehutanan nasional maupun internasional. TFIC akan menyediakan informasi kehutanan, jurnal-jurnal elektronik, serta akan mendukung penelitian kehutanan di dalam dan luar negeri," ujar Sukanto Tanoto.

Dengan langkah ini, Sukanto Tanoto berharap hutan di Indonesia akan terus lestari. Jika itu terjadi, misinya untuk melindungi lingkungan akan tercapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar